Erti Sebuah Peradaban

Posted: Disember 14, 2009 in community@IHSAN, info@IHSAN

Dr Hamid Fahmy Zarkasyi, Pengarah Center for Islamic and Occidental Studies mengatakan, cara pandang atau world-view manusia hari ini telah dikuasai oleh falsafah barat yang yakin dengan meninggalkan agama nescaya manusia akan lebih maju dan bertamadun. “Sekularisasi adalah proses sub-ordinan nilai-nilai melampau (transcendent) yang memisahkan agama dari kehidupan. Agama dipinggirkan, dan manusia dengan segala hasil ciptaannya menjadi ukuran dalam kehidupan,”

Lalu Dr Hamid Fahmy menjelaskan konsep ideal seorang manusia dalam islam dengan mengerti makna kata din. Istilah din berasal dari da-ya-na atau dana yang memiliki mashdar dayn. Artinya adalah: Hutang.

“Manusia berhutang pada Tuhan yang harus dibayar dengan menyerahkan kehidupannya kepada Tuhan. Penyerahan kepada Tuhan sekaligus pengakuan bahawa Tuhan adalah Dzat yang Maha Agung,” jelasnya.

Lalu ia melanjutkan. Manusia dalam jumlah yang banyak dan berkelompok, selalu memerlukan seorang pemimpin, yang disebut dayyan. Pemimpin yang tentu saja memiliki karakteristik pasrah pada hukum-hukum Allah. Din diamalkan dan diterapkan oleh sebuah komuniti di dalam suatu tempat yang disebut madinah. Dari madinah inilah lahir dan muncul ciptaan-ciptaan manusia yang kelak disebut dengan peradaban atau tamaddun.

“Dengan rentetan seperti itu, maka seharusnya islam menjadi sumber ritual, spiritual, intelektual dan juga peradaban,” tutur Dr Hamid dengan tegas.

Proses Kehancuran

Malek Bennabi, sejarawan Muslim asal Aljazair merumuskan proses jatuh bangunnya sebuah peradaban. Malik bennabi membahagikan umur peradaban menjadi tiga tahap; tahap spiritual (spiritual stage), tahap rasional (rational stage), dan tahap naluri (instinctive stage).

Malik Bennabi yang telah meninggal pada tahun 1973 percaya, bahawa faktor spiritual lah yang memberikan kesempatan kepada manusia untuk tumbuh dan maju. Ketika spiritual hilang, maka peradaban pun akan jatuh dan tumbang.

Tiada ada yang lebih kuat mengawal manusia daripada kekuatan spiritual yang ada dan berkembang dalam dirinya. Dan ketika kekuatan spiritual ini lemah, maka rational stage akan melahirkan tahapan baru iaitu instinctive stage. Semua digerakkan oleh nafsu, dan semakin besar sebuah nafsu berkuasa, maka semakin cepat peradaban manusia musnah.

Betapa sedihnya kita. Tahap pertama pun belum kita lalui, tetapi kehidupan kita sudah dibelenggu oleh nafsu dan syahwat yang menggelora. Kita belum lagi menjadi makhluk yang berspiritual tinggi. Kita belum mampu mengolah kehidupan dengan teknologi canggih, seperti halnya negara-negara maju. Tetapi kita sudah terjebak oleh kehidupan naluri yang tidak terkendali.

Sejarah Tamadun Dunia

Kemajuan dalam teknologi moden dan kekayaan kebendaan tidak akan menjamin kelangsungan sebuah peradaban. Lihat sahaja Mesir yang telah hidup dengan peradabannya yang sangat tinggi pada tahun 2300 sebelum Masehi. Pada zamannya, Mesir telah mampu menentukan waktu musim tanam dan meramalkan kemarau panjang. Para intelektual Firaun telah mampu merancang sistem pengairan dengan memanfaatkan Sungai Nil jauh sebelum Colombus; penemu Amerika itu lahir. Mereka menyusun piramid dengan sistem struktur presisi dan seni yang tinggi. Malah sehingga kini, susah di cari teknologi untuk menandinginya.

Namun kehancuran tidak boleh dihindarkan. Kecanggihan teknologi, kekayaan ekonomi dan kekuatan pemikiran tidak mampu membendung kebinasaan yang memang telah menjadi takdir ketika sebuah peradaban telah dijajah oleh hasrat syahwat. Ketika Firaun berkata, “Akulah Tuhan yang Maha Mulia.” Maka peradaban Mesir memasuki gerbang kehancuran.

Begitu juga Petra yang hingga kini masih dapat ditonton bekas pahatannya di lembah Rom, Jordan. Sisa kejayaan kaum Nabatean itu masih kukuh berdiri, menunjukkan betapa canggihnya teknologi kejuruteraan yang mereka kuasai. Petra diambil dari bahasa Yunani yang bermaksud batu. Dan ini adalah simbol pertahanan yang paling kuat yang pernah ada di muka bumi. Mereka membangun sistem pengairan yang canggih sekali gus sangat kompleks dalam kota yang memahat gunung-gunung batu dan mengalirkan air bersih bahkan sampai ke bilik. Mereka membangun sistem hidrolik untuk mengangkat air dan mencegah banjir. Mereka juga membangun sebuah teater yang mampu menampung 4000 orang pada zaman itu, zaman ketika manusia belum banyak jumlahnya.

Mereka bukan sahaja mengingkari, malah mereka membunuh unta Nabi Salleh yang seharusnya mereka jaga. Maka tiada balasan lain kecuali kebinasaan. Padahal mereka telah dikurniakan kemampuan yang tinggi oleh Allah Swt.

Tetapi justeru kerosakanlah yang mereka bangunkan. Mereka menternak dosa dan kezaliman. Lalu Allah menghancurkannya dengan gempa, juga sambaran petir yang mematikan. Dan tidak ada yang ditinggalkan dalam keadaan hidup.

“Seolah-olah mereka belum pernah berdiam di tempat itu. Ingatlah, sesungguhnya kaum Tsamud mengingkari Rabb mereka. Ingatlah, kebinasaanlah bagi kaum Tsamud.”
(QS Huud: 68)

Penyelesaian

Mungkin hari ini Allah tidak mengirimkan laut yang menggulung pemimpin-pemimpin yang zalim. Mungkin hari ini, Allah tidak lagi memerintahkan gempa dan petir untuk memusnahkan kaum yang derhaka. Tetapi percayalah, Allah memiliki seribu satu cara yang tak pernah difikirkan manusia. Kadang cara itu bernama krisis minyak dunia. Kadang cara itu bernama harga bahan makanan global yang kian menjulang. Lalu menyerbu negeri-negeri yang tidak pernah bersyukur dengan nikmat dengan krisis multidimensi yang tidak mampu mereka selesaikan sendiri, kecuali dengan pertolongan Allah.

Pemikir Muslim yang telah terjerat dengan pemikiran Barat sering mengatakan bahawa idea al-Ghazali yang mengajak umat Islam kembali kepada Al-Quran dan Hadith, adalah idea mundur yang tidak membawa kemajuan. Bahkan serangan al-Ghazali pada dunia falsafah buta dan kekuatan rasional manusia sering dianggap sebagai pemicu kemunduran peradaban Islam. Padahal pada masa itulah, abad ke-10, Islam sedang berada di puncak kejayaannnya hingga melahirkan Ala Al-Din Abu’l-Hasan Ali Ibn Ibrahim Ibn al-Shatir yang kelak karyanya memberikan inspirasi pada Copernicus dalam perjalanannya menemukan teori heliosentrik.

Sudah banyak sejarah yang membuktikan, bahawa ketika nilai-nilai mulia ditinggalkan, spiritual dan Al-Quran Sunnah di humban ke laut, yang terjadi hanyalah kehancuran. Bumikanlah Al-Quran, maka Allah akan melangitkan kehidupan manusia. Mengutip kata-kata dalam Zaharudin.net, ”jauhilah dari riba, hancurkanlah rasuah, hemat berbelanja wang PETRONAS dan negara, keutamaan dalam sektor pendidikan dan pembangunan manusiawi,..”. Kekuatan spiritual (SQ).

Kita bukan makhluk yang dengan gagah mengatakan cogito ergo sum (aku berfikir maka aku ada) seperti yang dikatakan Prof. Dr Rene Descartes. Kita adalah manusia yang dengan penuh rendah hati telah mengatakan,

“Bahawa sesungguhnya solatku, hidupku, juga matiku untuk Tuhan penguasa alam semesta.”

Rujukan

1. Khawarzimic Science Society
2. Wikipedia, The Free Encyclopedia
3. Hidayatullah.com
4. Zaharuddin.net
5. Utusan Online
6. Majalah Islam Sabil

*Tq my cuzen…

Tinggalkan Jawapan

Masukkan butiran anda dibawah atau klik ikon untuk log masuk akaun:

WordPress.com Logo

Anda sedang menulis komen melalui akaun WordPress.com anda. Log Out / Tukar )

Twitter picture

Anda sedang menulis komen melalui akaun Twitter anda. Log Out / Tukar )

Facebook photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Facebook anda. Log Out / Tukar )

Google+ photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Google+ anda. Log Out / Tukar )

Connecting to %s